serial: Cinta Kunti
23.03
Cinta Kunti
Oleh : hardianti
Kata teman-temanku sesama Kuntilanak
aku masih hidup, aku hanya terbaring koma di rumah sakit. Kalaupun iya, kenapa
aku tidak bisa bertemu dengan tubuh kasarku itu. Ntahlah, tetapi yang ada semakin
lama aku menikmati tubuh halusku ini yang bisa terbang kemanapun yang aku suka.
Hanya saja terkadang aku merindukan seseorang di dalam rumah bergaya kolonial
itu yang kuketahui bernama Rivan. Kata teman-teman Kuntilanakku Rivan sudah
punya pacar yang ntah kenapa telah menghilang hampir sebulan. Tentu saja itu
memberikan angin segar untukku menggoda Rivan. Dan dimulailah hari-hariku
menggodanya.
Malam
itu Rivan terlihat kusut matanya nanar menatap ke luar jendela. Didekatnya
berenang dengan galaunya seekor ikan yang kutaksir berwarna merah itu (maklum
aku buta warna). Aku berusaha menghiburnya dengan berlalu lalang di depannya
menyerupai sebuah bayangan yang berlalri terbirit-birit seperti baru saja
kecipirit. Terang saja itu membuat Rivan kaget, reflek dia menyiramku dengan air
ikan yang ada di atas meja dekat jendela.
“byurr!”
kuyup deh badanku. Melihat aku yang telah berkuyup ria Rivan mengambil kentongan
dan berlari ke luar rumah. Cepat tanggap dengan apa yang terjadi aku segera
meloncat-loncat menjauh dari area bahaya (sejak kapan Kuntilanak loncat?).
“Huahahaha….”
Terdengar suara tertawa dari atas pohon menatapku penuh nafsu. Sial ada Drakula
Ompong. Aku harus lari darinya sebelum aku menyesal. Terlambat, drakula ompong
telah menarik tanganku menuju hutan larangan. Aku berteriak sejadi-jadinya
mengalahkan lolongan serigala. Rasa takut mulai menghampiriku (selain takut
diapa-apain juga takut mendengar kata “hutan larangan….” yang terkenal gelap
dan banyak lalat dikarenakan banyak sampah),
Dengan
kasarnya (tanpa ada cahaya bulan dan bintang yang biasanya berebut bersinar)
Drakula Ompong menarik tanganku menyuruh memegang sesuatu dan memperhatikannya
lekat-lekat. Satu dua tiga waktu berlalu. Keheningan begitu mencekam. Dan
“jrengg” aku hampir pingsan. “Aku punya arloji yang bisa nyala dalam gelap
lohh…..” (kalo tidak sadar disekelilingku terdapat gunungan sampah aku pasti
sudah ambruk).
Drakula Ompong cengengesan menatap
aku dan arlojinya itu. Dengan merutuk aku terbang meninggalkannya terbengong-bengong.
“Ahh..!!” aku terduduk diatas ayunan ungu yang terletak persis di depan kamar
Rivan. Sepertinya Rivan masih belum tidur. Rasa isengku bergejolak.
Aku duduk di sudut ranjang Rivan. Sementara
Rivan sendiri duduk di sudut lain ranjang. Tanpa berkedip aku memperhatikan
tingkahnya. Ditangannya tergenggam erat sebuah foto. “Nina andai saja aku lebih
cepat mengatakannya tentunya ini semua ga akan terjadi” Rivan mulai menangis
menyesal. “Kau ingat dengan bunga ini?” tangannya mengambil setangkai bunga
mawar ntah berwarna apa (kalian tahukan kalo aku buta warna!) lalu dikecupnya
bunga itu dengan air mata yang menggelinang. “Hay kau!” tiba-tiba tanpa menoleh
Rivan menunjukkan jarinya menujuku. Aku terkejut dia bisa melihatku. ‘PERGILAH
dari hidupku jangan ganggu aku hanya NINA yang boleh bersamaku!!” teriaknya.
Dengan langkah gontai aku menembus
dinding tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Selang beberapa menit
setelah aku berhasil duduk memelas diatas ayunan. Terdengar teriakan dari dalam
kamar Rivan. “Sudah kubilang jangan ganggu aku!! Aku hanya mau Nina!!”.
Belakangan aku tersadar aku telah mencintai orang gila yang gila karena
kepengecutannya dalam mengejar wanita pujaannya.
Ntah kenapa mendadak aku merasa
teringat dengan tubuh komaku.
The End
0 komentar