cerbung: Namak dan Munti (Cinta yang Hilang)

22.44

Namak dan Munti
(Cinta yang Hilang)
Oleh : hardianti

Satu tahun yang lalu
Hari-hari serasa sama. Tak ada yang berbeda. Aku masih di kota ini. Masih saja melakukan hal yang sama. Menunggumu di depan hotel yang kau janjikan dan berharap surat-surat darimu. Aku begitu yakin kau akan datang menemuiku. Lalu menikah denganku seperti yang kau  janjikan dalam surat-suratmu.
Tak bisakah kau  mendengar hati ini berteriak memanggilmu. Tak dapatkah kau mengenali cinta ini. Tak juga kau lihat mata ini hanya bisa memandangmu. Aku sungguh-sungguh butuh kamu.
            Awalnya aku mengira kau  mendambakan aku seperti halnya aku yang mendambamu. Surat-suratmu itu begitu memukau. Kau seperti terlahir sebagai pujangga cintaku. Aku yang dulunya menjalani hari biasa menjadi tak biasa setelah kau mengirimiku surat-suratmu itu. Hari-hariku telah berubah menjadi penantian akan surat-suratmu dan kau tentunya.
            Aku tak pernah mengenalmu. Aku juga tak tahu tentangmu. Tetapi mengapa kau bisa tahu tentang aku. Bukan saja tentangku melainkan segalanya mengenaiku. Kau benar-benar membuatku mabuk, terpesona oleh sihir kata-katamu.
            Dua tahun rasanya belum cukup. Aku masih ingin membaca surat-surat darimu. Aku begitu ingin menerima pujian darimu. Tolong kirimi aku lagi surat-suratmu itu!



Let’s Go! Gunung Muntai
Tak jauh dari sana, beberapa kilometer menuju Selatan, mata air suci Gunung Muntai akan ditemui. Kesanalah Jehu dan team-nya menuju.
Matahari tak begitu nampak. Jelas saja mereka telah jauh masuk ke dalam hutan terlarang. Hutan yang berada di atas tubuh Gunung Muntai. Sebuah kawasan yang seharusnya tak pernah mereka masukki. Mereka bukan tak tahu dengan konsekuensinya malahan mereka sangat tahu.
Beriringan mereka berjalan semakin dekat menuju mata air suci. Mereka harus bergegas bila tak ingin malam datang dan memperlambat rencana mereka. Sebenarnya Gior selaku ketu team tak begitu perduli dengan malam yang segera datang. Dia hanya khawatir dengan mitos yang pernah didengarnya. Sebuah mitos yang mengatakan tentang pemukiman harimau. Harimau-harimau itu akan muncul jika malam datang. Terlebih bila malam bulan purnama. Harimau-harimau itu menurut mitos yang pernah didengarnya akan berkumpul di suatu tempat untuk melakukan sesuatu. Ntah apa sesuatu itu. Tetapi yang pasti Gior sangat berhati-hati. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk Jehu.
Gior berjalan di depan, Reno di belakang Gior, dan Jehu yang bersikeras ingin berada di belakan barisan. Gior hanya bisa menarik nafas tak bisa melawan keinginan Jehu. Ntah kenapa Jehu merasa enggan berada di belakang Gior. Sepertinya ada sesuatu di dalam diri Gior yang membuat Jehu resah.
Jehu merasakan tubuhnya lunglai. Wajar saja selama ini Jehu tak pernah berjalan sejauh dan sepayah ini. Dirasakannya kepalanya berkunang-kunang. Jehu rubuh ke tanah , dengkulnya menyentuh sebuah batu . Darah segar mengucur dari dengkulnya. Reno yang kebetulan menoleh kebelakang segera menghampiri Jehu yang berjarak lima meter darinya. Reno juga berteriak memanggil Gior.
Ternyata Reno dan Gior kalah cepat. Seorang lelaki berbadan tegap telah meluncur terlebih dahulu dan menggendong tubuh Jehu. Sulit diterima akal sehat bagaimana bisa lelaki berbadan tegap itu bisa meluncur sebegitu cepatnya hanya seperkian detik. Begitulah yang ada dalam pikiran Reno dan Gior.
Tiba-tiba angin menjadi kencang. Daun-daun berguguran dan berputar-putar seakan menggulung tubuh Jehu dan lelaki berbadan tegap itu. Bersamaan dengan itu muncul cahaya berkilauan dari kalung lelaki berbadan tegap. Dan seketika saja keadaan menjadi seperti semula.
Jehu merasakan dejavu. Namun dia hanya diam saja tak berkata apa-apa. Lelaki berbadan tegap itu tersenyum kepadanya dan menurunkannya dari gendongannya. Lalu berjongkok di bawah lutut Jehu. Lelaki itu merobek sebagian baju yang dikenakannya lalu menutupi luka di dengkul  Jehu. Kembali dejavu menerjang Jehu.
Gior dan Reno telah berada di hadapan Jehu dan lelaki berbadan tegap. Lelaki berbadan tegap memperkenalkan namanya ; Bagus. Bagus, sebuah nama yang terdengar asing ditelinga Jehu.
“ kalian mau kemana? Ini adalah hutan terlarang!” Bagus bertanya dengan mimik cemas.
“kami ingin ke Mata Air Suci” Gior mencoba menjawab.
“untuk apa? Mata Air Suci itu hanya dongeng belaka. Tak ada Mata Air Suci disini!” Bagus berusaha meyakinkan. Terlihat Gior tersenyum sinis. Jehu melihat itu dan memalingkan wajahnya. Lalu Jehu bertanya kepada Bagus “ apa kau warga disini?”
Bagus menolehkan pandangannya ke dalam mata Jehu dan berkata “ ya, aku lahir dan besar disini sejak dulu”
Mendengar jawaban Bagus, Reno turut bicara “ maukah kau menunjukkan kami jalan menuju ke Mata Air Suci?”
Bagus masih menatap mata Jehu lekat-lekat “sudah kubilang, tidak ada Mata Air Suci!”
Gior yang jengah dengan jawaban Bagus berkata dengan sombongnya “jika kau mengantarkan kami ke Mata Air Suci , kami akan memberikanmu imbalan setimpal!”
“apa itu?” Bagus bertanya tanpa memalingkan pandangannya.
“kami akan memberikan apa yang kau mau” Gior mengedipkan matanya dan tersenyum kemenangan.
“baiklah. Aku setuju! Tapi…..” Bagus menggantung kalimatnya.
Gior mulai waspada.
“tapi aku butuh temanku” Bagus melepas pandangannya. Dan beralih memandang ke dalam hutan yang lembab.
“sebentar lagi temanku akan datang”
Tak lama kemudian dari balik pepohonan terdengar suara langkah tergesa-gesa. Dan muncullah seorang lelaki muda. Lelaki itu memperkenalkan namanya Wan Mu. Reno tak ambil pusing dengan kehadiran Wan Mu. Reno hanya ingin segera sampai ke Mata Air Suci. Agar dia bisa mewujudkan impiannya. Berbeda dengan Gior dan Jehu yang merasakan kejanggalan . namun Jehu dan Gior hanya menyimpannya di dalam pikiran masing-masing.

           




Mata Air Suci
Bagus dan Wan Mu benar-benar terlihat seperti warga lokal. Mereka dengan mudahnya berjalan menuju ke Mata Air Suci. Hampir satu jam kami telah sampai. Genangan air terlihat berkilau padahal tidak terlihat matahari yang membiaskan cahaya ke dalam nya.  Begitu beningnya samapi-sampai dapat terlihat dua ekor ikan yang sedang berenang. Reno mengambil botol kosong untuk mengisi air suci. Gior menenggelamkan kakinya ke dalam genangan yang hanya sampai lututnya. Inikah Mata Air Suci itu? Terlihat begitu memukau. Kutaksir ukuran Mata Air Suci yang menggenang ini hanya lima kali lima meter. Kurasa bisa kurang.
Gior membungkuk dan membuat gerakan tangan seperti berusaha menyentuh  kedua ikan penghuni Mata Air Suci. Dia berhasil menyentuh salah satu dari kedua ikan yang bersisik biru. Bagus yang melihat kelakuan Gior berteriak melarang. Tetiba langit sore menjadi gelap sempurna. Bagus meraih tanganku yang kebetulan berada tiga langkah darinya. Oh, sesuatukah yang akan terjadi!
Mata Air Suci yang tadinya tenang mendadak bergelombang dan berbuih. Gior masih diam di dalam air entah apa yang dipikirkannya. Sementara itu kedua ikan terlempar ke atas tanah lalu menggelepar seperti berusaha melepaskan sesuatu. Wan Mu menyuruh Reno menyiram kedua ikan itu dengan air mineral yang berada di ranselnya. Begitu disiram kedua ikan itu berhenti menggelepar. Kemudian yang terjadi dari tubuh kedua ikan keluar asap putih. Semakin lama asap putih itu mengepul dan meninggi. Bagus mendorongku masuk ke dalam genangan air. Gior segera meraihku dan memelukku dari samping. Bersamaan dengan itu Bagus berteriak menyuruh Wan Mu dan Reno masuk ke dalam genangan air.
Sepertinya Bagus tahu yang akan terjadi. Karena beberapa detik kemudian dari balik pepohonan muncul tiga harimau. Ketiga harimau itu segera menyambar kepulan asap. Terjadilah pergulatan yang terlihat aneh. Kepulan asap menggulung tubuh ketiga harimau. Ketiga harimau memberontak dengan cara berputar-putar dan bergulingan. Kurasa dua menit berlalu. Kepulan asap memudar dan lambat-laun menghilang. Terdengar suatu benda jatuh dan berkilau dari kepulan asap yang menghilang.
Gior segera naik ke permukaan tanah. Dia mengambil benda yang jatuh itu. Ternyata itu adalah tusuk konde emas. Ketiga harimau mendekati Gior. Gior sama sekali tak terlihat takut. Bagus turut mendekati Gior. Dia  terlihat cemas.
“Gior, kalau kau  tak keberatan, berikan tusuk konde itu kepada Jehu!” Bagus berusaha meraih tusuk konde dari genggaman Gior. Namun Gior beringsut mundur.
Dengan sengit Gior berkata “Ada apa dengan tusuk konde ini? Mulai sekarang tusuk konde ini milikku!”
Bagus menahan nafas. Ketiga harimau menundukkan wajahnya.
“Kau tak tahu apa-apa! Sudah berikan saja kepada Jehu. Kalau kau ingin selamat!” Bagus mengancam.
“Aku tahu tusuk konde ini pasti berkhasiat!” Gior berjalan menuju genangan air. Diciduknya air dengan salah satu tangannya. Dengan senyum keingintahuan dia mencelupkan tusuk konde ke dalam air yang berada di dalam tangannya.
“Seperti yang pernah kudengar, Mata Air Suci ini menyimpan banyak rahasia. Tusuk konde ini bila dimasukkan ke dalam air yang berada di tanganku ini maka akan membukakan salah satu rahasia itu.” Gior mendongak dan menatapku tajam.
“Jehu, peganglah tanganku ini!” Gior memerintahku. Aku segera melakukan seperti yang dimauinya.
Begitu tanganku menyentuh tangah Gior yang menggenggam tusuk konde aku merasa tersengat listrik. Ragaku terasa telah kosong. Sebab jiwaku telah terbang.




Aku Mencintaimu, Munti!
Seharusnya hari ini aku bisa melihatmu mengenakan kalung yang telah aku berikan kemarin melalui dayangku. Tetapi aku sama sekali tak melihat. Kemanakah kalung itu?

bersambung........


You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images