Gambaran Jawa Pada Masa Lalu

23.29

Gambaran Jawa Pada Masa Lalu
Ringkasan dari artikel C.C. Berg dengan judul yang sama
Dalam masa kontak kultural India-Jawa, mitos India telah cukup banyak terserap dalam gambaran Jawa mengenai masa lampau. Ini bisa terlihat dalam silsilah Jawa yang menganggap dewa dan pahlawan India sebagai nenek moyang mereka. Akan tetapi  orang Jawa sangat loyal terhadap masa lampaunya sehingga pengetahuan yang baru mereka peroleh tidak bisa mendorong mereka untuk mengubah gambaran mereka mengenai masa lampau menjadi kronik “catatan sejarah”.
Pengucapan mantra gaib yang terdapat pada naskah Jawa dapat menjadi bagian dari gambaran masa lampau. Seorang pujangga mengucapkan kata-kata gaib bertujuan untuk mempengaruhi jalannya peristiwa. Pada masa Erlangga dalam kakawin Arjunawiwaha, kakawin Erlangga dan OJO 62 menceritakan mengenai sebuah candi yang diciptakan demi suatu janji suci dan ramalan yang diucapkan oleh Erlangga menjelang zaman baru.  Secara pokok penulis bermaksud membuat suatu garis nenek moyang demi keagungan Erlangga. Ini dapat ditelusuri melalui kakawin Arjunawiwaha yang ceritanya berbeda jauh dari sumbernya yakni syair Sanskerta Mahabharata. Terbukti syair pujaan terhadap Erlangga ini pada abad ke-11 dianggap bertuah. Adapun parafrase  syair tersebut menyerap banyak unsur Indonesia, namun pola silsilah diubah.
Dalam suatu syair terdapat keadaan yang dikenal oleh pembaca, yang sebenarnya bukanlah keadaan sebenarnya melainkan merupakan gambaran yang menguasai masa lampau, suatu gambaran yang dipaksakan terjadi. Misalnya peristiwa dalam Pararaton yang memuat mengenai perang pada tahun 1331 di mana Gajah Mada didukung penuh oleh Ratu. Atau yang termuat dalam Tantu Panggalaran mengenai sang Putri Champa yang kemungkinan adalah Ratu Tribhuwanottunggadewi yang diceritakan telah berbuat dosa dengan berzinah. Suatu dosa yang mulanya masalah pribadi berakhir pada akibat politik yang penting.  Sehingga ini menjadi proses di mana Ratu menjadi makhluk jahat.
Babad Tanah Jawi merupakan suatu naskah di mana sang pengarang meniru Prapanca, menggabungkan teori mengenai akhir zaman dengan sebuah silsilah. Gambaran Prapanca yang berlebih-lebihan mengenai kebesaran Majapahit berhasil mengesankan Orang Jawa maupun Nusantara. Dan membuat pangeran Jawa pada abad ke-15-16 menganggap raja Majapahit sebagai nenek moyang mereka.
Gambaran masa lampau adalah seperangkat mitos, sama seperti halnya dengan kata-kata yang mempunyai kekuatan yang dapat mempengaruhi situasi maupun benda-benda mati.


You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images